Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, sehingga upaya untuk menurunkan angka kematian ini harus ditangani secara serius. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menegaskan bahwa hanya menyediakan fasilitas dan teknologi medis tidaklah cukup. Tantangan lain yang harus dihadapi adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri, agar pasien tidak memilih untuk berobat ke luar negeri.
Ketua Pengurus Pusat PERKI, Ade Meidian Ambari, mengungkapkan bahwa perhatian publik sering kali terfokus pada sengketa antara dokter dan pasien. Sementara itu, keberhasilan dokter Indonesia dalam menangani kasus-kasus kompleks jarang mendapat sorotan. Ia menegaskan bahwa kompetensi dokter spesialis jantung di Indonesia sangat baik, bahkan setara dengan negara-negara lain.
Dalam perbandingan dengan Singapura, yang memiliki jumlah pasien lebih sedikit, Ade menjelaskan bahwa tingginya volume pasien di Indonesia justru memberikan lebih banyak pengalaman klinis bagi dokter. “Kelebihan mereka lebih banyak terletak pada publikasi ilmiah yang membuat mereka lebih dikenal,” ujarnya dalam acara ASMIHA 2026 di Jakarta, pada Kamis, 17 Juli 2026.
Namun, Ade mengakui bahwa membangun kepercayaan masyarakat merupakan proses yang memakan waktu. Selain itu, jumlah dokter spesialis jantung yang terbatas dan distribusinya yang tidak merata menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, terdapat sekitar 2.200 dokter spesialis jantung di Indonesia, di mana hanya sekitar 1.600 yang aktif. Sekitar 60 persen dari mereka berada di Pulau Jawa dan Sumatera, sementara sekitar 40 persen kabupaten/kota di Indonesia masih kekurangan layanan dokter spesialis jantung.
PERKI menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan kolegium untuk memastikan penempatan dokter spesialis di daerah diimbangi dengan fasilitas yang memadai. Hal ini penting karena dokter tidak dapat memberikan pelayanan optimal jika peralatan dasar yang diperlukan tidak tersedia. Selain itu, penguatan sistem pembiayaan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan.
Ade juga mengakui bahwa terdapat perbedaan kualitas layanan antara rumah sakit di Indonesia dan negara tujuan berobat seperti Singapura. Menurutnya, rumah sakit di Singapura sangat memperhatikan kenyamanan dan pengalaman pasien dari kedatangan hingga kepulangan setelah perawatan. Ia tidak menampik bahwa kualitas pelayanan seperti itu perlu dipelajari dan ditingkatkan di Indonesia, namun prioritas utama sistem pelayanan kesehatan nasional tetap pada layanan gawat darurat yang bersifat menyelamatkan nyawa. “Setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, peningkatan kualitas layanan dan teknologi kesehatan akan terus dikembangkan secara bertahap,” jelas Ade.
Ketua Kolegium Kardiologi Indonesia, Renan Sukmawan, menambahkan bahwa kompetensi dokter spesialis jantung Indonesia telah disusun berdasarkan standar yang setara dengan negara lain. Dokter yang ingin mendalami bidang tertentu, seperti intervensi jantung, aritmia, atau jantung anak, harus mengikuti pendidikan lanjutan (fellowship) selama satu hingga dua tahun sebelum memperoleh sertifikasi subspesialis. “Kompetensi dokter jantung Indonesia setara dengan dokter jantung di Amerika pada level spesialis,” kata Renan.
Selain menyusun standar kompetensi, kolegium juga bertanggung jawab dalam menentukan kurikulum pendidikan, serta menguji dokter sebelum mereka memperoleh sertifikat kompetensi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menambahkan bahwa di bidang kardiologi, BPJS telah menjalin kerja sama dengan sekitar 3.200 rumah sakit, 3.000 klinik, dan 241 laboratorium kateterisasi jantung (cath lab) di seluruh Indonesia. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan adanya 260 cath lab lainnya yang sedang dalam proses kerja sama. “Kementerian Kesehatan juga memiliki program untuk memastikan minimal satu cath lab tersedia di setiap kabupaten,” ungkap Prihati.
Menurutnya, hampir seluruh layanan berteknologi tinggi telah dijamin oleh BPJS Kesehatan, mulai dari layanan cath lab, radioterapi, kedokteran nuklir, kemoterapi, hingga hemodialisis. Namun, masih ada tantangan dalam penerapan teknologi baru di lapangan.
